BERITA

  • Jamsaren, Pondok Tertua Kedua Dan Terbaik dari 15 Pondok di Wilayah Indonesia

    Jamsaren, Pondok Tertua Kedua Dan Terbaik dari 15 Pondok di Wilayah Indonesia

    Maliska – Dari 15 pondok tertua dan terbaik di wilayah Indonesia, Pondok Pesantren Jamsaren yang berada di Jl. Veteran No. 263 Serengan Surakarta merupakan pondok tertua dan terbaik kedua. Pondok ini pertama kali berdiri sekitar tahun 1750.

    Dalam sejarahnya, pondok ini melewati dua periode, setelah mengalami kevakuman hampir 50 tahun, antara 1830 - 1878. Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Pada waktu itu PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas). Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian nama itu menjadi nama pondok untuk menghormati pendirinya.

     

    15 Pondok tertua dan terbaik di wilayah Indonesia diantaranya:

    1. Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur (berdiri tahun 1718)

    Sidogiri dibabat oleh seorang Sayyid dari Cirebon Jawa Barat bernama Sayyid Sulaiman. Beliau adalah keturunan Rasulullah dari marga Basyaiban.
    Ayahnya, Sayyid Abdurrahman, adalah seorang perantau dari negeri wali, Tarim Hadramaut Yaman. Sedangkan ibunya, Syarifah Khodijah, adalah putri Sultan Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Dengan demikian, dari garis ibu, Sayyid Sulaiman merupakan cucu Sunan Gunung Jati.

    2. Pondok Pesantren Jamsaren Jawa Tengah (berdiri tahun 1750)

    Pondok Jamsaren didirikan oleh Kyai Djamsari. Semula, pondok pesantren yang didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV ini hanya berupa surau kecil. Kala itu, PB IV mendatangkan para ulama, di antaranya Kiai Jamsari (Banyumas). Nama Jamsaren itu juga diambil dari nama kediaman Kiai Jamsari yang kemudian diabadikan hingga sekarang.

    Vakumnya pondok pada 1830 disebabkan terjadinya operasi tentara Belanda. Operasi itu dimulai lantaran Belanda kalah perang dengan Pangeran Diponegoro pada 1825 di Yogyakarta. Karena kalah, Belanda melancarkan serangkaian tipu muslihat dan selanjutnya berhasil menjebak Pangeran Diponegoro. Karena itu pada 1830, para kiai dan pembantu Pangeran Diponegoro di Surakarta dan PB VI bersembunyi dan keluar dari Surakarta ke daerah lain, termasuk Kiai Jamsari II (putra Kiai Jamsari) dan santrinya.Setelah sekitar 50 tahun kosong, seorang kiai alim dari Klaten yang merupakan keturunan pembantu Pangeran Diponegoro, Kiai H Idris membangun kembali surau tersebut. Tentu lebih lengkap dan diperluas dari kondisi semula.

    Di tangan Kiai Idris inilah Jamsaren mencapai puncaknya.Selain mengelola Ponpes Jamsaren, Kiai Idris saat itu juga mengelola Madrasah Mamba’ul Ulum yang didirikan Kraton Surakarta. Sejumlah tokoh pergerakan nasional dari berbagai daerah tercatat pernah belajar di madrasah tersebut.Sedangkan di Jamsaren, ribuan santri dari berbagai penjuru Asia Tenggara datang berguru kepada Kiai Idris yang dikenal sangat ‘alim dan juga menjadi mursyid Thariqah Naqsyabandiyah tersebut.Di antara nama-nama besar yang pernah nyantri Kiai Idris adalah Kiai Mansyur (pendiri Ponpes Al-Mansyur Klaten), Kiai Dimyati (pendiri Ponpes Termas, Pacitan), Syeich Ahmad al-Hadi (tokoh Islam kenamaan di Bali), Kiai Arwani Amin (Kudus), Kiai Abdul Hadi Zahid (pengasuh Ponpes Langitan).

    Bahkan setelah Kiai Idris wafat pada tahun 1923, nama besar Jamsaren masih menjadi rujukan bagi para orangtua untuk mengirim anaknya nyantri. Banyak tokoh besar tanah air merupakan lulusan atau pernah belajar agama secara intens di Jamsaren generasi berikutnya.

    3. Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Gading Malang Jatim (berdiri tahun 1768)

    Pondok Pesantren Miftahul Huda (PPMH) Malang didirikan oleh KH. Hasan Munadi pada tahun 1768. PPMH juga dikenal dengan nama Pondok Gading karena tempatnya berada di kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Bahkan nama yang terakhir lebih masyhur dikalangan masyarakat.

    4. Pondok Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat (berdiri tahun 1785)

    Pesantren ini sangat terkenal di Jawa Barat dan menjadi pelopor pesantren lain di provinsi Jawa barat, DKI Jakarta dan Banten. Tidak sedikit dari pengasuh pesantren di ketiga provinsi tersebut yang merupakan alumni dari Pesantren Butet. Oleh sebab itu, pesantren ini bisa jugadi sebut sebagai salah satu pesantren terbaik dan paling berpengaruh di Indonesia.

    5. Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan Madura (berdiri tahun 1787)

    Pondok Pesantren Banyuanyar bermula dari sebuah langgar (musholla) kecil yang didirikan oleh Kyai Itsbat bin Ishaq sekitar tahun + 1787 M/1204 H. Beliau adalah salah seorang ulama kharismatik yang terkenal dengan kezuhudan, ketawadhuan dan kearifannya yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh masyarakat dan pengasuh pondok pesantren di Pulau Madura dan Pulau Jawa

    6. Pondok Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur (berdiri tahun 1830)

    Setelah Bagus Darso (nama kecil KH. Abdul Manan) menyelesaikan pelajarannya di Pondok Tegalsari Ponorogo, beliau lantas mendirikan pondok di daerah Semanten [2km arah utara kota Pacitan], Namun dikemudian hari pondok tersebut akhirnya dipindah ke Tremas.

    7. Pondok Pesantren Langitan Tuban Jawa Timur (berdiri tahun 1852)

    Pondok pesantren Langitan berdiri pada tahun 1852. Ponpes ini adalah pesantren yang sangat berpengaruh di daerah Surabaya ke arah barat menjangkau kabupaten Bojonegoro, Gresik, Cepu, Tuban serta Lamongan. Figur yang sangat mempunyai kharisma tinggi di pesantren ini adalah adalah KH Abdullah Faqih yang turut berkiprah di kancah politik Nasional. Hal inilah yang menambah dikenalnya pesantren Langitan ini.

    8. Pondok Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan (berdiri tahun 1861)

    Syaikhona (Syaichona) Kholil mendirikan sebuah pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan. Setelah putrinya, Siti Khatimah, dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha (Muhammad Thaha); pesantren di desa Cengkubuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya tersebut. Dan Kiai Khalil sendiri, pada tahun 1861 M., mendirikan pesantren lagi di daerah Kademangan, hampir di pusat kota; sekitar 200 meter sebelah Barat alun-alun kota Kabupaten Bangkalan. Letak pesantren yang baru itu, hanya selang 1 kilometer dari pesantren lama dan desa kelahirannya. Pesantren yang terakhir ini kemudian dikenal sebagai pesantren Syaikhona Kholil.

    9. Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung Jabar (berdiri tahun 1881)

    Pondok Pesantren Sukamiskin yang didirikan oleh K.H. Raden Muhammad bin Alqo pada tahun 1881 M ini telah mampu mencetak berbagai alumni yang tersebar di berbagai pelosok. Tak sedikit diantara alumni tersebut yang telah mendirikan pondok pesantren sebagai wadah memanfaatkan ilmu yang didapatnya selama di Sukamiskin. Wajar saja, karena pada kenyataannya pesantren yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ini merupakan pesantren tertua di Bandung.

    10. Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jatim (berdiri tahun 1899)

    Pondok Pesantren Tebuireng didirikan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M. Pesantren ini didirikan setelah ia pulang dari pengembaraannya menuntut ilmu di berbagai pondok pesantren terkemuka dan di tanah Mekkah, untuk mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya.

    11. Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta (berdiri tahun 1911)

    Pada tahun 1911, sepulang dari belajardi Mekkah selama 21 tahun, KH. Munawir yang tinggal di kampung Kauman, Yogyakarta (di belakang Masjid Agung alun-alun Yogyakarta) membuka pengajian di rumahnya. Kian hari santri terus bertambah, dan rumah Kyai tak mampu lagi menampung. Maka dipindahkanlah tempat pengajian itu ke desa Krapyak Kulon. Beberapa bangunan pondok yang dibangun di tempat baru inilah yang kemudian dikenal sebagai kompleks Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak.

    12. Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Sumut (berdiri tahun 1912)

    Pesantren ini merupakan pesantren tertua berdiri tahun 1912 yang berada di Sumatera Utara, selain itu pesantren ini juga merupakan pesantren terbaik dan terpopuler di Sumatera Utara. Tidak sedikit para lulusan santri yang melanjutkan studi ke luar negeri, selain itu banyak juga alumni lulusan ini yang menjadi tokoh berpengaruh di lokal maupun nasional. Nama lain dari pesantren ini adalah pesantren Purba Baru.

    13. Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur (berdiri tahun 1914)

    Pada tahun 1328 H / 1908 M, Kiai Syamsul Arifin atas saran Habib Hasan Musawa dan Kiai Asadullah dibantu putranya, As’ad dan beberapa orang santri yang menyertai dari Madura, membabat dan merambah hutan tersebut untuk didirikan sebuah pesantren dan perkampungan.

    14. Pondok Modern Gontor Ponorogo Jatim (berdiri tahun 1926)

    Pondok Gontor Lama

    Berbekal 40 santri yang dibawa dari Pondok Tegalsari, Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin bersama istrinya mendirikan Pondok Gontor Lama di sebuah tempat yang terletak ± 3 kilometer sebelah timur Tegalsari dan 11 kilometer ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan hutan dan kerap kali dijadikan persembunyian perampok, penjahat, dan penyamun. Kepemimpinan Pondok Gontor Lama berlangsung selama tiga generasi:

    • Generasi 1: Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin (pendiri Pondok Gontor Lama)
    • Generasi 2: Kyai Archam Anom Besari (putra Kyai R.M. Sulaiman)
    • Generasi 3: Kyai Santoso Anom Besari (putra Kyai Archam Anom Besari)

    Kyai Santoso Anom Besari menikah dengan Rr. Sudarmi, keturunan R.M. Sosrodiningrat (Bupati Madiun). Kyai Santoso Anom wafat pada tahun 1918 di usia muda dan meninggalkan 7 anak yang masih kecil. Kepemimpinan Pondok Gontor Lama pun akhirnya berakhir, Di kemudian hari, tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama dengan memperbarui dan meningkatkan sistem serta kurikulumnya.

    Pondok Modern Darussalam Gontor

    • Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren tradisional dan lembaga modern, tiga orang putra Kyai Santoso Anom akhirnya kembali ke Gontor dan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi SAW, mereka mengikrarkan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Ketiganya dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu: K.H. Ahmad Sahal (1901–1977)K.H. Zainudin Fananie (1908–1967)K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985)
    • Pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan 28 Rabi’ul Awwal 1378, Trimurti mewakafkan PMDG kepada Umat Islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat. Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota alumni Gontor (IKPM) yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG.

    15. Pondok Pesantren Bata-bata Pamekasan Madura Jawa Timur (berdiri tahun 1943)

    Pondok pesantren Mambaul Ulum Bata Bata didirikan oleh RKH .Abd Majid bin Abd Hamid bin RKH Itsbat, Banyuanyar pada tahun 1943 M / 1363 H. Kepemimpinan RKH Abd Majid berlangsung selama 14 tahun terhitung mulai tahun 1943 M sampai dengan 1957 M. Beliau Wafat pada tanggal 6 Syawal 1364 H/ 1957 M dengan jumlah santri yang telah mencapai 700 orang.

    Sumber : http://bondowosoedukasi.blogspot.com/2016/06/berikut-15-pondok-pesantren-tertua-dan.html#ixzz5Vl3heMAS

     

     

     

KOMENTAR

BERITA LAINNYA

Indeks